akhirnya setelah sekian lama mengumpulka duit hasil keras ndiri, hasil keringat ndiri. bisa beli domain n hosting, seneng banget deh g kebanyang senengnya
ni dia
jadi disina ad perpindahan aj
ok kunjungi ya
Ditulis oleh Naruto di/pada 4 Februari 2009
akhirnya setelah sekian lama mengumpulka duit hasil keras ndiri, hasil keringat ndiri. bisa beli domain n hosting, seneng banget deh g kebanyang senengnya
ni dia
jadi disina ad perpindahan aj
ok kunjungi ya
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Ditulis oleh Naruto di/pada 19 November 2008
Reset Password Root Linux Bandel !
Lupa atau hilang password? Sesuatu yang menjengkelkan bukan… apalagi klo yang ilang tadi itu password root dari server kita. Solusinya ? tentu saja reset password !
Pada dasarnya tidak mungkin melakukan reset password, kecuali kita punya akses langsung ke fisik dari si mesin. (ga bisa secara remote). Eh bisa sih… cuman hrs menggunakan exploit atau rootkit atau apapun itu.. tp itu juga tidak secara langsung, butuh effort yang besar dan syarat perlunya adalah sistem operasi atau aplikasi yang berjalan mengandung bug yang memungkinkan akses ke shell.
Metode umum yang bisa digunakan a.l :
1. Menggunakan sudo
2. Masuk ke mode single user
3. Masuk menggunakan media bootable yang sejenis.
Edisi Linux Bandel (Debian Style, termasuk *buntu-2an)
Untuk cara yang pertama tentunya mensyaratkan program sudo terinstal di sistem (Ubuntu secara default tidak mengaktifkan account root, semua harus dilakukan via sudo) dan sebuah account user yang masuk ke sudoers
1. install program sudo
2. tambahkan di /etc/sudoers
nama_user ALL=(ALL) ALL
3. untuk bertindak dengan privileges root gunakan perintah sudo. Login sebagai user yg masuk sudoers dan lakukan :
nama_user@localhost~>sudo su -
Password: masukkan password user
#whoami
root
#passwd
Tapi untuk bisa menggunakan cara ini tentu saja tetap harus ingat password user yang masuk sudoers tadi itu.. klo tidak ya… gimana… terpaksa harus menggunakan cara selanjutnya.
Cara yang kedua adalah standar, masuk ke single user atau runlevel 1. Caranya adalah dengan menambahkan parameter pada option kernel pada bootloader.
a. LILO
Pada saat akan masuk ke lilo, tekan tombol SHIFT sehingga muncul prompt-nya LILO
lilo :
Ketikkan nama kernel diikuti “single” atau “1″
lilo : linux 1
Maka kita akan masuk ke runlevel 1 dan bisa merubah password root dari situ
sh#/usr/bin/passwd
b. GRUB
Setelah masuk ke menu GRUB ketikkan ESC utk melihat detail menunya. Kemudian pilih salah satu kernel dengan menggunakan tombol panah lalu sorot dan tekan ‘e’ (edit)
Pada bagian kernel tambahkan di bagian terakhir option “single dan “1″. Setelah itu ketik ‘b’ (boot) untuk booting ke kernel dengan option-option yang telah dispesifikkan.
Maka kita akan masuk ke mode single user. Lakukan perubahan password dari situ.
Tapiiiii…………. tunggu dulu…
Linux yang menganut pakem Debian style tidak akan semudah itu membiarkan kita masuk ke single user, karena untuk masuk ke single user pun kita ditanyakan password root (buset dah…. )
Untuk itu yg harus dilakukan adalah bukan mengetikkan “single” atau “1″ namun “init=/path/to/shell” misal “init=/bin/bash” agar kita langsung lompat masuk ke shell tanpa ditanyakan password.
Setelah masuk ke shell bukan berarti kita langsung bisa merubah password. Merubah password sebenarnya adalah merubah file /etc/shadow. Hal itu sementara tidak bisa langsung dilakukan karena pertama kali boot filesystem kita termount dengan akses ro (readonly) saja.
Untuk itu kita harus me-remount filesystem kita (terutama / ) dengan option rw (read write) agar kita mempunyai hak write ke /etc/shadow
Setelah masuk ke shell lakukan :
#mount / -o remount, rw
#mount /usr -o remount, rw
#passwd
New UNIX password:*******
Retype new UNIX password: *******
passwd: password updated successfully
#mount / -o remount, ro
#mount /usr -o remount, ro
#sync
#reboot
*sync digunakan untuk mem-flush buffer dari filesystem sebelum direboot.
Cara yang ketiga adalah last resort, cara kasar dan terakhir jika cara yang lain tidak bisa digunakan.
Bersambung …
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Ditulis oleh Naruto di/pada 19 November 2008
Selama ini orang selalu menganggap bahwa membuat cluster load balancing adalah hal yang rumit dan memusingkan. Dan.. memang benar pendapat ini. Tapi sebenarnya ada satu cara mudah untuk mencapainya dengan menggunakan yang namanya balance.
Sebelumnya kita bahas dahulu sedikit mengenai konsep Clustering. Secara prinsip clustering mempunyai 2 buah pendekatan:
1. High Availability (Failover), adalah bila satu server gagal melayani service tertentu, maka tugas server tersebut otomatis akan dilempar ke server lainnya.
2. High throughput (Performance), disini yang diinginkan adalah performance yang tinggi yang dicapai dengan “membagi2″ tugas yang ada ke sekumpulan server. Contohnya adalah:
2a. High-performance Computing (HPC), adalah sekumpulan server yang bekerja bersama-sama pada saat yang bersamaan untuk mengerjakan sesuatu tugas tertentu, biasanya dalam bentuk tugas perhitungan yang berat2, seperti simulasi bumi, me-render film animasi, dll.
2b. Load Balancing, adalah membagi2 beban kerja ke sekumpulan server diluar konteks computing, misalnya membagi beban kerja web server, mail server, dll.
Bagaimana mencapai hal ini?
Ada beberapa software opensource yang dapat kita gunakan:
1. Linux High-Availability (http://www.linux-ha.org)
2. RedHat Cluster Suite dan Piranha (http://www.redhat.com)
3. Linux Virtual Server (http://www.linuxvirtualserver.org)
4. BeoWulf Cluster (http://www.beowulf.org)
5. Openmosix (http://openmosix.sourceforge.net)
Namun solusi2 di atas kadang kala terlalu “canggih” atau “overkill” untuk mencapai tujuan clustering kita. Disinilah ‘balance’ masuk. Apa yang dapat ia sediakan?
1. Merupakan user-space program. Tidak perlu compile kernel dll. Langsung jalan secara command line.
2. Load balancing secara tcp. Cukup menyebutkan protocol atau port tcp berapa yang ingin kita load balancing.
Cara setup:
1. Download paketnya dari http://www.inlab.de/balance.html
wget http://www.inlab.de/balance-3.40.tar.gz
2. Extract, compile dan install:
2a. tar zxvf balance-3.40.tar.gz
2b. cd balance-3.40
2c. vi Makefile
Ubah baris ini: MANDIR=${BINDIR}/../man/man1
Menjadi: Untuk Ubuntu: MANDIR=/usr/share/man/man1
Untuk RedHat: MANDIR=/usr/local/share/man/man1
2d. make
2e. make install
Done!
Cara pakai:
Sebelumnya kita misalkan skenario seperti ini:
Kita mempunyai sebuah website yang ingin kita bagi beban kerjanya ke 3 buah server web. Maka kita perlu mensetupnya seperti terlihat di gambar (Oya, gambarnya adalah foto PC zaman dulu, tapi itu hanya ilustrasi yah, nanti servernya jangan pakai PC zaman dulu juga. Hehe…). Tiga buah server web yaitu www1 (192.168.0.1), www2 (192.168.0.2), dan www3 (192.168.0.3). Di depan mereka kita install sebuah server (192.168.0.254) yang bertugas membagi2 bebas kerja para server www tersebut. Jadi IP yang akan diakses oleh user adalah IP 192.168.0.254, jangan ke masing2 server www.

Commandnya: (Jalankan command ini di 192.168.0.254) balance
Bila diketik tanpa option dia akan muncul seperti ini:
_ _
| |__ __ _| | __ _ _ __ ___ ___
| ‘_ \ / _` | |/ _` | ‘_ \ / __/ _ \
| |_) | (_| | | (_| | | | | (_| __/
|_.__/ \__,_|_|\__,_|_| |_|\___\___|
this is balance 3.40
Copyright (c) 2000-2006,2007
by Inlab Software GmbH, Gruenwald, Germany.
All rights reserved.
usage:
balance [-b addr] [-B addr] [-t sec] [-T sec] [-adfpHM] \
port [h1[:p1[:maxc1]] [!%] [ ... hN[:pN[:maxcN]]]]
balance [-b addr] -i [-d] port
balance [-b addr] -c cmd [-d] port
-a enable channel autodisable option
-b host bind to specific address on listen
-B host bind to specific address for outgoing connections
-c cmd execute specified interactive command
-d debugging on
-f stay in foregound
-i interactive control
-H failover even if Hash Type is used
-M use MMAP instead of SHM for IPC
-p packetdump
-t sec specify connect timeout in seconds (default=5)
-T sec timeout (seconds) for select (0 => never) (default=0)
! separates channelgroups (declaring previous to be Round Robin)
% as !, but declaring previous group to be a Hash Type
examples:
balance smtp mailhost1:smtp mailhost2:25 mailhost3
balance -i smtp
balance -b 2001:DB8::1 80 10.1.1.1 10.1.1.2
balance -b 2001:DB8::1 80
Jadi cara pakainya adalah misalnya:
balance -f http 192.168.0.1 192.168.0.2 192.168.0.3
Option -f itu artinya balance jalan di foreground, berguna untuk kita debug dan cancel. Kalau misalnya sudah ok, bisa kita jalankan tanpa option -f, maka balance akan jalan di background.
Untuk melihat cara bekerja balance adalah dengan membuka sebuah terminal dan meload website 192.168.0.254 secara berulang2. Untuk mudahnya dapat kita gunakan text browser seperti elinks:
watch elinks –dump http://192.168.0.254
Untuk kebutuhan testing, dapat kita atur agar isi website di 192.168.0.1, 192.168.0.2, dan 192.168.0.3 berbeda, jadi command di atas akan menampilkan isi website yang berbeda, tanda bahwa balance sudah meload balancing traffik web ke tiga buah server tersebut.
Contoh lain adalah:
balance -f http 192.168.0.1::100 ! 192.168.0.2::100 ! 192.168.0.3
Arti option di atas adalah: koneksi http akan diprioritaskan ke server 192.168.0.1 sampai sebanyak 100 koneksi, bila sudah penuh maka akan dilempar ke 192.168.0.2 sampai sebanyak 100 koneksi juga, sisanya akan ke 192.168.0.3
Bagaimana jika kita ingin menghandle koneksi yang memerlukan session seperti website dynamic pakai php? Hal ini bisa dicapai dengan option ‘%’ yaitu mengaktifkan session seperti ini:
balance -f http 192.168.0.1 192.168.0.2 192.168.0.3 %
Untuk option2 selengkapnya dapat kita lihat di ‘man balance’.
Apakah hanya dapat digunakan untuk akses http? Tentu tidak, dengan sedikit eksplorasi kita dapat pula menggunakannya untuk keperluan lain seperti load balancing akses internet, email, proxy, dll.
Penutup
Program balance ini menyediakan sebuah solusi praktis dan mudah untuk membuat sebuah cluster load balancer. Performance yang dihasilkan cukup bagus. Namun bila kita ingin menggunakan solusi yang lebih handal, kita dapat menggunakan LVS (linux virtual server) dengan kombinasi linux-ha. Namun tentu saja settingannya akan jauh lebih rumit. Kita akan membahasnya di lain kesempatan. Selamat mencoba
Tutorial ini dapat di download dari menu Download sebelah. Jangan lupa register dulu yah untuk mendownload.
Download > Artikel > Linux Admin > Sort berdasarkan Submit Date > adm_cluster_loadbalancing_mudah.
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Ditulis oleh Naruto di/pada 19 November 2008
Sumber : KPLI Jakarta
Ahmed Unies KLAS
Berikut ini beberapa kumpulan trobuleshhoting yang dilakukan dilunyx :
# Mendeteksi Hardware menggunakan lspci
Untuk mengetahui perangkat apa saja yang berhasil dikenali oleh Linux dapat diketahui dengan menjalankan perintah pada konsol dengan perintah lspci. Untuk mengetahui ringkasan semua perangkat yang terkoneksi pada bus PCI dengan menjalankan :
# sbin/lspci
00:00.0 Host bridge: VIA Technologies, Inc. VT8363/8365 [KT133/KM133] (rev 02) 00:01.0 PCI bridge: VIA Technologies, Inc. VT8363/8365 [KT133/KM133 AGP]
00:06.0 Ethernet controller: Linksys Network Everywhere Fast Ethernet 10/100 model NC100
(rev 11)
…
Gunakan parameter -v dan -vv untuk menampilkan informasi yang lebih detail :
# /sbin/lspci -v
0000:01:00.0 VGA compatible controller: 3Dfx Interactive, Inc. Voodoo 3 (rev 01) (prog-if
00 [VGA])
Subsystem: 3Dfx Interactive, Inc.: Unknown device 1252
Flags: 66MHz, fast devsel, IRQ 10
Memory at d4000000 (32-bit, non-prefetchable) [size=32M]
Memory at d8000000 (32-bit, prefetchable) [size=32M]
I/O ports at c000 [size=256]
Expansion ROM at <unassigned> [disabled] [size=64K]
Capabilities: [54] AGP version 1.0
Capabilities: [60] Power Management version 1
Perintah lspci membaca semua informasi yang berada pada bus PCI, lalu menampilkan informasi berdasarkan database ID hardware, vendor, perangkat yang berada di /usr/share/misc/pci.ids. Ada perintah untuk melakukan updatenya :
# update-pcids
Menggunakan dmesg untuk Mengumpulkan Informasi Hardware
Selain PCI masih ada perangkat lain yang dapat diketahui informasi mengenainya, seperti untuk USB, SCSI, konfigurasi memori dan lain-lain.
Dengan menjalankan perintah dmesg, dmesg mencatat yang terdeteksi oleh kernel.
Untuk melihat semua output dari dmesg dengan menggunakan :
$ dmesg | less
Anda juga dapat memfilter output untuk mencari lebih spesifik perangkat tertentu, misal untuk mencari perangkat usb :
$ dmesg | grep -i usb
Untuk perangkat ISA :
$ dmesg | grep -i isa
isapnp: Scanning for PnP cards…
isapnp: SB audio device quirk – increasing port range
isapnp: Card ‘SupraExpress 56i Voice’
Untuk melihat sebarapa banyak memori fisik yang digunakan pada sistem dengan menggunakan :
$ dmesg | grep -i memory
Memory: 256492k/262080k available (1467k kernel code, 5204k reserved, 516k data, 96k init,
0k highmem)
Untuk mengetahui port serial :
$ dmesg | grep -i tty
ttyS00 at 0×03f8 (irq = 4) is a 16550A
Mengetahui Sistem yang Sedang Berjalan dengan /proc
Jika Anda ingin mengetahui memori fisik dan informasi mengenai CPU, identifikasi driver dapat menggunakan dengan membaca filesystem yang berada di /proc. Untuk membacanya hanya dengan menggunakan perintah :
$ cat /proc/filename
Anda dapat melihat isi /proc seperti layaknya membaca isi direktori dengan perintah :
$ ls /proc
bus cmdline cpuinfo devices dma driver filesystems ide kcore kmsg ksyms loadavg
meminfo misc modules mounts mtrr partitions pci scsi swaps sys tty
Sebagai contoh untuk melihat informasi mengenai CPU dengan menjalankan :
$ cat /proc/cpuinfo
processor : 0
vendor_id : AuthenticAMD
cpu family : 6
model : 3
model name : AMD Duron(tm) Processor
stepping : 1
cpu MHz : 801.442
…
Untuk melihat memori fisik dan swap yang digunakan :
$ cat /proc/meminfo
total: used: free: shared: buffers: cached:
Mem: 262746112 237740032 25006080 0 11575296 150138880
Swap: 534601728 81661952 452939776
MemTotal: 256588 kB
MemFree: 24420 kB
…
Untuk mengetahui mengenai hard drive IDE :
$ cat /proc/ide/via
——-VIA BusMastering IDE Configuration———
Driver Version: 3.37
South Bridge: VIA vt82c686a
Revision: ISA 0×22 IDE 0×10
Highest DMA rate: UDMA66
BM-DMA base: 0xd400
PCI clock: 33.3MHz
…
Untuk melihat geometry disk, baik secara real dan logikal :
$ cat /proc/ide/ide0/hda/geometry
physical 39870/16/63
logical 2501/255/63
Untuk mengindentifikasi drive :
$ cat /proc/ide/ide0/hda/model
IBM-DTLA-305020
Untuk mengetahui semua versi drive untuk semua IDE :
$ cat /proc/ide/drivers
de-scsi version 0.93
ide-cdrom version 4.59-ac1
ide-floppy version 0.99.newide
ide-disk version 1.17
ide-default version 0.9.newide
Untuk mengetahui kapabilitas dari drive CD :
$ cat /proc/sys/dev/cdrom/info
CD-ROM information, Id: cdrom.c 3.12 2000/10/18
drive name: sr1 sr0
drive speed: 40 32
…
Can read multisession: 1 1
Can read MCN: 1 1
Reports media changed: 1 1
Can play audio: 1 1
Can write CD-R: 1 0
Can write CD-RW: 1 0
Can read DVD: 0 1
Can write DVD-R: 0 0
Can write DVD-RAM: 0 0
Melihat Partisi Hardisk Menggunakan fdisk
Anda perlu melihat semua partisi pada hardisk atau drive. Anda ingin mengetahui space yang tersedia, partisi sistem operasi lain, mengkonversi partisi yang tidak digunakan, atau untuk mengetahui angka /dev berdasarkan partisi yang ada. Untuk melakukan itu Anda dapat menggunakan perintah fdisk.
Untuk mengetahui informasi detail mengenai partisi yang ada dengan menggunakan :
# /sbin/fdisk -l
Disk /dev/hda: 20.5 GB, 20576747520 bytes
255 heads, 63 sectors/track, 2501 cylinders
Units = cylinders of 16065 * 512 = 8225280 bytes
Device Boot Start End Blocks Id System
/dev/hda1 * 1 893 7172991 7 HPFS/NTFS
/dev/hda2 894 1033 1124550 c W95 FAT32 (LBA)
/dev/hda4 1034 2501 11791710 f W95 Ext’d (LBA)
/dev/hda5 2437 2501 522081 82 Linux swap
/dev/hda6 1034 1670 5116639+ 83 Linux
/dev/hda7 1671 2436 6152863+ 83 Linux
Disk /dev/hdb: 40.0 GB, 40020664320 bytes
16 heads, 63 sectors/track, 77545 cylinders
Units = cylinders of 1008 * 512 = 516096 bytes
Device Boot Start End Blocks Id System
/dev/hdb1 * 1 4162 2097616+ 82 Linux swap
/dev/hdb2 4163 77545 36985032 83 Linux
Untuk mengetahui partition table berdasarkan drive :
# /sbin/fdisk -l /dev/hda
Disk /dev/hda: 20.5 GB, 20576747520 bytesDisk /dev/hda: 20.5 GB, 20576747520 bytes
255 heads, 63 sectors/track, 2501 cylinders
Units = cylinders of 16065 * 512 = 8225280 bytes
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »