Satria Online

Peace, Friend ‘n Love

Arsip untuk Desember, 2008

Konfigurasi Wireless di Mikrotik sbg Router & Wds

Ditulis oleh Naruto di/pada 4 Desember 2008

I. PENDAHULUAN

Teknologi Wireless LAN menjadi sangat popular saat ini di banyak aplikasi. Wireless LAN bekerja dengan menggunakan gelombang radio. Sinyal radio menjalar dari pengirim ke penerima melalui free space, pantulan, difraksi, Line of Sight dan Obstructed LOS. Ini berarti sinyal radio tiba di penerima melalui banyak jalur (Multipath), dimana tiap sinyal (pada jalur yang berbeda-beda) memiliki level kekuatan, delay dan fasa yang erbeda-beda.

Awalnya teknologi ini didesain untuk aplikasi perkantoran dalam ruangan, namun sekarang Wireless LAN dapat digunakan pada jaringan peer to peer dalam ruangan dan juga point to point diluar ruangan maupun point to multipoint pada aplikasi bridge. Wireless LAN di desain sangat modular dan fleksibel. Jaringan ini juga bisa di optimalkan pada lingkungan yang berbeda. Dapat mengatasi kendala geografis dan rumitnya instalasi kabel.

II. ALAT

1. 2 Antenna grid yang masing-masing sudah tersambung ke router board mikrotik menggunakan kabel coaxial

2. Ligthning Protector

3. Ligthning protector Arrester

4. Power Over Ethernet

5. Mounting

6. AC adaptor

7. RJ45 Injector

8. Kabel UTP

III. TOPOLOGI

a. Topologi Wireless sebagai Router

clip_image002

b. Topologi Wireless sebagai WDS

clip_image004

IV. LANGKAH KONFIGURASI & PENGUJIAN

a.Konfigurasi Wireless Sebagai Router

a) Konfigurasi AP

  1. Beri ip address pada interface wlan 1 seperti gambar di bawah ini.

IP Address = 10.1.3.1/24

Interface = wlan1

clip_image006

  1. Begitu juga pada interface ether1. IP Address = 10.2.200.8/24 Interface = ether1

clip_image008

  1. Setelah selesai mengatur ip maka langkah selanjutnya adalah kita masuk ke table wireless lalu enabelkan wlan1 pada tab interface.
  2. Kemudian setting Mode = ap bridge, SSID = Mikrotik, Frequensi = 5180 pada tab wireless di Interface <wlan1>, seperti gambar dibawah ini.

clip_image010

  1. Kemudian buat routing agar dapat terkoneksi ke stasion, seperti gambar dibawah ini.

clip_image012

  1. Untuk melihatnya ketikan perintah print pada ip route, seperti gambar dibawah ini.

clip_image014

b) Konfigurasi Stasion

1. Sama halnya seperti pada AP, beri ip pada interface ether1 dan wlan1 seperti gambar dibawah ini.

- IP Address = 10.1.3.2/24 interface = wlan1

clip_image016

- IP Address = 10.1.200.1/24 interface = ether1

clip_image018

2. Setelah selesai mengatur ip maka langkah selanjutnya adalah kita masuk ke table wireless lalu enabelkan wlan1 pada tab interface.

3. Kemudian setting Mode = stasion, SSID = Mikrotik, Frequensi = 5180 pada tab wireless di Interface <wlan1>, (SSID dan frekuensi harus sama dengan AP) seperti gambar dibawah ini.

clip_image020

4. Buat routing dari stasion seperti gambar dibawah ini.

clip_image022

5. Lakukan perintah print pada ip route untuk melihat tampilannya.

clip_image024

c) Pengujian

1. Pengujian dapat dilakukan dengan cara uji koneksi dengan perintah ping dari router AP ke station atau dari stasion ke AP

clip_image026

Ping dari AP ke PC client Stasion

Ping dari pc client AP ke pc client Stasion

clip_image028

Ping dari Stasion ke AP & pc client AP

Ping dari pc client stasion ke AP & pc client AP pc client AP

clip_image030

clip_image032

clip_image034

b.Konfigurasi Wireless Sebagai WDS

a) Konfigurasi AP

  1. Sebelumnya, buat interface bridge untuk bridging dari masing-masing wireless.(AP dan Stasion-WDS).lihat gambar dibawah ini.

clip_image036

  1. Setting bridge seperti gambar dibawah ini.

clip_image037

  1. Berikan ip address pada masing-masing interface bridge1 dan ether1.

- IP Address = 10.1.3.1/24 Interface = bridge1

clip_image039

- IP Address = 10.1.200.8/24 Interface = ether1

clip_image041

  1. Masuk ke tab Bridge Port,kemudian atur interfacenya untuk bridging, seperti gambar dibawah ini.

Bridge Port wlan1

Bridge Port ether1

clip_image043

clip_image045

  1. Kemudian setting wireless pada interface wlan1, setting Mode sebagai ap-bridge, SSID = Mikrotik, frekuensi = 5180.lihat gambar dibawah!

clip_image047

b) Konfigurasi Stasion-WDS

1. Buat interface bridge1

clip_image049

2. Berikan ip address pada masing-masing interface.

- IP Address = 10.1.3.2/24 Interface = bridge1

clip_image051

- IP Address = 10.1.200.10/24 Interface = ether1

clip_image053

3. Masuk ke tab Bridge Port,kemudian atur interfacenya untuk bridging, seperti gambar dibawah ini.

Bridge Port wlan1

Bridge Port ether1

clip_image055

clip_image057

4. Setting wireless pada interface wlan1, setting mode sebagai stasion-wds, SSID dan frekuensi disamakan dengan konfigurasi AP.Lihat gambar dibawah ini.

clip_image059

5. Kemudian setting WDS-nya.

clip_image061

6. Setting mode WDS-nya = dynamic.

7. Setelah itu masuk ke interface wds kemudian atur master interfacenya sebagai wlan1.

clip_image063

WDS Mode

Interface WDS

clip_image065

8. Konfigurasi Stasion selesai.

c) Pengujian

1. Pengujian bisa dilakukan dengan menggunakan perintah tracert dari client AP dan begitupun sebaliknya.

Test dari client stasion ke client AP

Test dari client AP ke client Stasion

clip_image067

clip_image068

V. KESIMPULAN

Pada saat sekarang router banyak digunakan karena cara kerja yang lebih efisien. Dari praktek ini dapat ditarik perbedaan antara wireless sebagai router dan wireless sebagai WDS. Perbedaannya yaitu, kalau yang di fungsikan sebagai router, client dari AP dapat berkomunikasi ke client stasion melalui dua buah wireless yang saling terkoneksi. Sedangkan yang difungsikan sebagai WDS, menggunakan system bridging, jadi seolah-olah client AP dan client Stasion dapat berkomunikasi secara langsung.

Ditulis dalam Network | Bertanda: , , | 2 Komentar »

Split DNS Menggunakan Bind9

Ditulis oleh Naruto di/pada 2 Desember 2008

Split DNS merupakan suatu metode yang memungkinkan DNS server untuk memberikan jawaban yang berbeda pada client yang berbeda untuk sebuah pertanyaan yang sama. Alasan yang banyak mendasari metode ini adalah memungkinkannya pemberian nama DNS untuk komputer-komputer yang berada pada jaringan lokal pada satu DNS server tanpa harus terresolve dari dunia luar.

Cara membedakannya adalah dengan membuat beberapa view dan mendaftarkan alamat network yang bersesuaian dengan view tersebut. Masing-masing view mempunyai definisi DNS zone sendiri, dan data dari zone itulah yang digunakan untuk menjawab query client.

Versi bind yang digunakan adalah 9.2.4(debian package) dan Debian 3.1 Sarge.

Skenario Kasus

KUD “Suka Maju” mempunyai beberapa komputer dengan IP publik, dan beberapa komputer lain dalam jaringan lokal. Domain yang harus bisa diresolve dari jaringan internet adalah www.kud-sukamaju.com, mail.kud-sukamaju.com, dan ns.kud-sukamaju.com. Kemudian beberapa domain yang digunakan untuk keperluan internal adalah kepala.kud-sukamaju.com, sekretaris.kud-sukamaju.com, dan db.kud-sukamaju.com.

Instalasi BIND

Instalasi bind9 pada debian mudah saja, yaitu dengan menggunakan apt-get.

Bila anda menggunakan distro lain install saja dari CD installernya, atau mungkin dengan mendownload source code dari ftp://ftp.isc.org/isc/bind9/.

root:~# apt-get install bind9

Konfigurasi named.conf

Konfigurasi zone file sama dengan konfigurasi pada umumnya, tanpa ada perbedaan sedikit pun. Implementasi split DNS ini hanya membutuhkan sedikit konfigurasi pada named.conf. Perlu kembali diingat bahwa masing-masing view tidak dapat berbagi zone. Walaupun semuah zone mempunyai data yang sama untuk kedua view, kita tetap harus menyebutkan definisi zone tersebut dalam semua view yang ada.

Pertama kita harus memisahkan network mana saja yang boleh meresolve domain internal, kemudian kita kelompokkan pada view yang bersesuaian. Kita akan membuat dua buah view, yakni eksternal dan internal. View eksternal memuat data yang bisa dilihat oleh seluruh dunia, dan view internal memuat data yang dapat dilihat dari jaringan internal KUD Suka Maju.

Daftar alamat IP dan domain yang dimiliki oleh KUD:

  • Nama domain: kud-sukamaju.com.
  • www: 12.2.1.10
  • mail: 12.2.1.11
  • ns: 12.2.1.12
  • kepala: 192.168.1.5
  • sekretaris: 192.168.1.6
  • db: 192.168.1.7

Alamat-alamat di atas kita kelompokkan menjadi dua view:

  1. view eksternal: www, mail, ns – dapat diresolve oleh semua client internet(0.0.0.0/0).
  2. view Internal: semua yang ada di eksternal ditambah kepala, sekretaris, dan db – hanya dapat diresolve oleh jaringan milik KUD Suka Maju(192.168.1.0/24, 12.2.1.0/29).

Contoh konfigurasi pada file named.conf:

view "internal" {
  match-clients {
    192.168.1.0/24;
    12.2.1.0/29;
  };

  zone "." {
    type hint;
    file "/etc/bind/db.root";
  };

  zone "kud-sukamaju.com" {
    type master;
    file "/etc/bind/kud-sukamaju.com.int";
  };
};

view "eksternal" {
  match-clients {
    0.0.0.0/0;
  };

  zone "." {
    type hint;
    file "/etc/bind/db.root";
  };

  zone "kud-sukamaju.com" {
    type master;
    file "/etc/bind/kud-sukamaju.com.eks";
  };
};

Satu hal yang perlu diingat adalah saat ada query dari client, maka bind akan mencoba mencocokkan IP penanya dengan view(s) yang ada di dalamnya secara berurutan dari atas ke bawah. Oleh karena itu view yang mengandung network 0.0.0.0 harus dituliskan setelah view yang lainnya.

Konfigurasi zone file

Zone file yang kita buat pertama kali adalah yang digunakan untuk view “eksternal”. Kemudian setelah itu kita dapat membuat sebuah file lagi untuk view “internal” yang isinya juga menyertakan file eksternal dengan menggunakan $INCLUDE.

File /etc/bind/kud-sukamaju.com.eks:

@  IN  SOA  ns.kud-sukamaju.com. admin.kud-sukamaju.com. (
      23 7200 3600 604800 86400
    )
    IN  NS    ns.kud-sukamaju.com
    IN  MX  1  mail.kud-sukamaju.com
    IN  A    12.2.1.10

$ORIGIN kud-sukamaju.com.
www    IN  A  12.2.1.10
mail    IN  A  12.2.1.11
ns    IN  A  12.2.1.12

Kemudian file /etc/bind/kud-sukamaju.com.int:

$INCLUDE "/etc/bind/kud-sukamaju.com.eks"
kepala    IN  A  192.168.1.5
sekretaris  IN  A  192.168.1.6
db    IN  A  192.168.1.7

Dengan cara itu maka semua definisi yang berlaku untuk view eksternal berlaku juga untuk view internal. Selain dengan cara itu pembuatan file zone secara total juga bisa dilakukan. Dengan konsep yang sama kita juga bisa membuat sebuah domain yang berIP a.b.c.d bila dilihat dari jaringan x, namun berIP q.w.e.r bila dilihat dari jaringan y.

Selamat mencoba, semoga sukses!

Referensi

  1. Bind 9 Advanced Reference Manual
  2. Google

Ditulis dalam Linux | Bertanda: , | 2 Komentar »